Peta Kapanca, Ritual Pernikahan Bima

Peta Kapanca, Ritual Pernikahan Bima - GenPI.co NTB
Seorang pengantin sedang menjalani Peta Kapanca. Ini adalah rangkaian budaya menjaga sakralitas pernikahan. (istimewa)

GenPI.co Ntb - Biasanya Tradisi Peta Kapanca ini dilakukan pada malam hari atau yang dilaksanakan satu hari sebelum prosesi akad nikah atau resepsi pernikahan.

Dalam bahasa Daerah Bima, “Peta” berarti melumat dan “Kapanca” berarti Daun Pacar.

Sehingga makna dari tradisi Peta Kapanca ini, yakni melumatkan daun pacar pada kedua telapak tangan calon pengantin wanita.

BACA JUGA:  60 UMKM di Mataram Bakal Ikuti Bazar MotoGP 2022

Ini sebagai simbol bahwa calon pengantin wanita tersebut akan menjadi seorang istri dari calon pengantin lelaki yang telah meminangnya.

Dalam pelaksanaan tradisi Peta Kapanca ini, calon pengantin wanita sebelumnya melakukan beberapa rangkaian kegiatan.

BACA JUGA:  Nyongkolan, Upacara Wajib Pernikahan Sasak

Dijelaskan, saat pelaksanaan acara atau tradisi Peta Kapanca berlangsung ada juga rangkaian dengan lantunan syair dan zikir bernuansa Islami yang serentak dibacakan oleh para wanita yang hadir.

Hal itu dilakukan sebagai simbol pengharapan agar calon pengantin wanita selalu mendapatkan berkah dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang telah mulai dibina.

BACA JUGA:  Didatangi Presiden, Ibu Suinah Menangis Bahagia

Kaum ibu yang memiliki anak gadis yang belum menikah, biasanya saling berebutan telur yang telah dihias yang berbentuk rangkaian bunga sebanyak 99 butir.

Berita Selanjutnya